Ampuh! Ini 11 cara memperbaiki mental anak yang sering dimarahi
Yuk Share!

Anak adalah generasi masa depan penerus bangsa dan hal paling berharga di mata para orang tua. Wajar saja kalau para orang tua akan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Namun, tak bisa dipungkiri kalau kadang kala pola asuh yang diterapkan bisa jadi tidak tepat meskipun orang tua sudah merasa memberikan yang terbaik.

Pola asuh yang kurang tepat justru dapat mengganggu perkembangan psikis anak yang nantinya dapat berdampak saat dewasa, apalagi kalau anak sering dimarahi tiap melakukan suatu kesalahan atau hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan atau ekspektasi orang tua.

Jika orang tua sudah menyadari pola asuhnya kurang tepat dan ingin mengubahnya, para orang tua bisa mencoba beberapa cara memperbaiki mental anak yang sering dimarahi di bawah ini!

Baca juga: Apa Itu Tantrum pada Anak? Ini Penjelasan, Penyebab, dan Cara Mengatasainya

Bagaimana Cara Memperbaiki Mental Anak yang Sering Dimarahi?

Ampuh! Ini Cara Memperbaiki Mental Anak yang Sering Dimarahi
Sumber gambar: https://unsplash(dot)com/photos/3bwMp-TyxOE

Dampak dari sering memarahi anak akan terasa dan terbawa saat ia sudah dewasa. Nantinya, anak akan mengadopsi perilaku tersebut dan cenderung suka memarahi atau menceramahi orang lain. Mereka juga akan cenderung menjadi pribadi yang keras kepala dan tidak mau mengalah.

Ini bisa muncul karena saat sudah dewasa pola perilaku yang diterapkan oleh orang tua terbawa hingga dewasa. Anak tidak ingin terlihat salah agar tidak merasakan kemarahan orang tua.

Untuk menghindari hal tersebut, orang tua tentunya perlu mencari cara untuk memperbaiki mental anak yang sering dimarahi. Berikut adalah beberapa cara memperbaiki mental anak yang sering dimarahi:

  • Cek Perilaku Mereka
    Tidak semua hal perlu ditegur oleh orang tua. Kadang kala memang ada beberapa perilaku yang lumrah dilakukan oleh Si Kecil. Di masa kanak-kanak, buah hati sedang mengeksplorasi dunia di sekitarnya.

    Wajar kalau anak akan melakukan beragam ‘eksperimen’ untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Alih-alih dimarahi, orang tua bisa mendukung hal-hal yang memang positif untuk perkembangan diri anak.
  • Bicarakan dengan Tenang
    Jangan langsung menegur anak dalam keadaan emosi. Hindari berteriak atau langsung mengomeli anak dengan penuh amarah. Tenangkan diri sejenak sebelum menyampaikan dengan tegas dan sopan kepada anak mengenai perilakunya yang kurang baik.

    Saat orang tua menenangkan diri, ini juga akan memberikan anak waktu untuk berpikir dan merefleksikan apa yang sudah mereka perbuat.
  • Sampaikan dengan Jelas
    Jangan memberikan penjelasan yang terlalu berbelit-belit, sampaikan apa yang ingin kamu beritahukan ke anak secara jelas, langsung beritahukan apa yang benar dan apa yang salah. Anak kecil memiliki fokus yang pendek dan penjelasan yang terlalu bertele-tele justru dapat membuatnya bingung.
  • Ganti Kalimat Negatif Menjadi Positif
    Alih-alih memarahi anak dan langsung menyebutkan kata ‘tidak’ atau ‘jangan’, orang tua bisa mengganti penataan kalimat menjadi kalimat yang positif. Misalnya, daripada berkata ‘jangan makan cemilan di atas tempat tidur’, orang tua bisa memberitahukan dampak buruk dari nyemil di atas kasur, seperti bisa mengundang serangga atau membuat tempat tidur kotor.
  • Menjadi Teladan
    Orang tua tidak hanya menjadi sosok yang memberitahukan apa yang benar dan apa yang salah, tapi juga menjadi role model untuk anak. Orang tua perlu melakukan apa yang ia sampaikan kepada anak.

    Jadi, kalau misalnya orang tua melarang anak untuk berkata kasar, maka orang tua perlu berkomunikasi dengan orang sekitarnya secara sopan.
  • Berikan Reward
    Daripada menghukum anak, berikan hadiah-hadiah kecil tiap kali ia melakukan sesuatu yang baik. Orang tua tidak perlu membelikan anak hadiah yang mahal, cukup berikan mereka minuman atau makanan favorit mereka.

Cara memperbaiki mental anak yang sering dimarahi memang bukanlah hal yang mudah, apalagi kalau orang tua sudah sering melakukannya sejak dini. Butuh proses dan waktu untuk merubah pola asuh anak. Ditambah lagi, anak juga tentunya perlu waktu untuk bisa terbuka dan kembali mempercayai orang tua yang sering memarahinya.

Baca juga: Apa Itu Anak Hiperaktif? Yuk Kenali Defenisi, Ciri, & Penyebabnya

Tentunya tiap anak memiliki karakteristik yang berbeda-beda, orang tua tidak bisa menerapkan satu cara untuk mendisiplin anak karena kamu juga perlu memahami kepribadian Si Kecil. Apabila kamu memiliki masalah dengan pola asuh anak, jangan sungkan untuk mengunjungi tenaga ahli, seperti psikolog, psikiater, terapis, ataupun konselor.

Kamu juga bisa berdiskusi mengenai cara memperbaiki mental anak yang sering dimarahi di grup Telegram Dear Senja, lho! Ayo bergabung di grup Telegram Dear Senja melalui link ini!

Referensi

Psych Alive. (n.d.). What You Need to Know About Disciplining Your Child. www.psychalive(dot)org

Psychology Today. (2019). Adult in Children of Scoldaholics. www.psychologytoday(dot)com

Tribeca Play Therapy. (2016). Scolding and Reprimanding as Part of Child Discipline: The Benefits Versus the Risks. www.tribecaplaytherapy(dot)com

Verywell Family. (2021). Mistakes Parents Make When Reprimanding Their Children. www.verywellfamily(dot)com


Yuk Share!

Leave a Reply

×

 

Hello!

Terimakasih sudah mengunjungi website Dear Senja. Ada yang bisa kami bantu?

× Contact Us On WhatsApp